Nasya Kirana N.A September 09, 2026 6 views

Perjuangan Serma Hudaya, Sang Pahlawan dari Rancapaku

Pada suatu hari, Saya mencoba mengikuti lomba yang di adakan di sekolah saya yaitu tentang cerita pahlawan. Kemudian saya teringat pada seorang pahlawan yaitu Serma Hudaya yang berada di daerah kelahiran saya tepatnya di Kp. Desakolot Desa Rancapaku Kecamatan Padakembang Kabupaten Tasikmalaya. Kemudian saya mencoba bertanya kepada Ayah saya “Benarkah ada pahlawan yang berasal dari daerah kita?”

“Iya. Namanya Serma Hudaya. Perjuangannya melawan Belanda sangat berani,” jawab Ayah saya.

Saya semakin tertarik untuk mencari tahu dan bertanya lebih banyak tentang perjuangan Serma Hudaya.

Desakolot adalah sebuah kampung kecil yang menjadi tempat lahirnya seorang pejuang kemerdekaan, sejak kecil ia tumbuh seperti anak biasa yang seusianya dengan kehidupan sederhana. Ketika umur 7 tahun beliau disekolahkan oleh orangtuanya di sekolah rakyat (SR), setelah lulus beliau melanjutkan pendidikannya di Pesantren Sukasari Desa Rancapaku selama 3 tahun dan berlanjut selama 2 tahun di Pesantren Cicalengka Bandung.


Singkat cerita beliau kembali untuk memanfaatkan ilmu yang di peroleh dari Pesantren untuk menjadi Guru Madrasah Diniyah namun sayangnya proses belajar mengajar itu hanya berlangsung selama 6 tahun saja kemudian beliau mengikuti saudaranya untuk bekerja di Jakarta sebagai buruh dagang, lalu menikah dan memiliki seorang Putri.


Serma Hudaya ikut berjuang pada masa revolusi kemerdekaan ketika Belanda dan pasukannya sedang berusaha kembali menguasai Indonesia. Ia juga pernah membentuk persatuan perjuangan bernama PELOPOR di Karang Anyar Jakarta dan dikenal sebagai Ketua Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). Karena Belanda dan sekutunya semakin gencar dengan strategi penculikan Ia pun dan pasukan nya mundur ke sebuah Kampung Klender (Jakarta) selama 1 bulan , selama di sana Belanda terus menerus melakukan serangan . Pasukan Serma Hudaya di haruskan mundur ke daerah Purwakarta dan bergabung dengan Pasukan Laskar Rakyat.


Di Purwakarta pasukan belanda terus melakukan perlawanan nya dan pada akhirnya Serma Hudaya kembali ke Kampung halamannya di Desa Rancapaku tepatnya di kampung Desakolot. Dengan keberanian dan rasa gigihnya beliau mengumpulkan para pemuda. Beliau memberikan arahan kepada para pemuda dan warga sekitarnya bahwa berjuang membela negara itu suatu keharusan.


Dari arahan nya itu beliau mendapat dukungan dari semua warga masyarakat. Para pemuda dan warga sekitar dengan penuh semangat tergerak hatinya siap membantu sepenuh hati untuk berjuang melawan belanda yang menyerang di mana-mana.

Salah satu senjata yang menjadi andalannya adalah sebuah busur panah yang diberi nama Si Kuntring. Karena pasukannya sering menyerang secara tiba-tiba dan panah mereka tidak menimbulkan suara, sampai pasukan Serma Hudaya dijuluki Pasukan Siluman oleh Belanda.


Beliau siap untuk melawan Belanda dengan mengucap Basmallah dan tidak lupa pula memohon pamit dan doa restu dari masyarakat yang ada di sekitarnya. Beliau berangkat menuju rute Jl.Cilaja - Kp. Sunia Cikunir dengan penuh semangat dan membawa bendera merah putih dengan maksud menentang Belanda. Perjalanan beliau memakan waktu satu hari penuh.

Pagi pagi beliau membawa alat tempur menyiapkan pasukannya dan Berangkat disiang hari menuju tempat pertempuran, setelah sampai disana beliau mengatur pasukan untuk menghadang Belanda yang akan melakukan aplus ke Garut, itupun segera di hadangnya dan pertempuran terjadi berlangsung selama beberapa jam.


Setelahnya situasi dirasa sepi pasukan menunggu perintah dari Serma Hudaya, tetapi pada kenyataannya Serma Hudaya tidak mengeluarkan perintah apapun, dan akhirnya pasukan pulang karena berpikir bahwa Serma Hudaya pulang terlebih dahulu. Setelahnya pasukan sampai di Kp. Desakolot ternyata Serma Hudaya tidak ada, sehingga membuat pasukan dan keluarganya khawatir.


Malam pun tiba pasukan dan keluarganya berangkat ke tempat medan perang tadi yang bermaksud untuk mencari Serma Hudaya. Pencarianpun berlangsung sangat lama sampai pagi belum juga di temukan.


Perjuangan Serma Hudaya akhirnya berakhir dalam sebuah pertempuran. Setelah dilakukan pencarian akhirnya jasad Serma Hudaya ditemukan di kawasan Gunung Gandola dalam keadaan telah gugur. Di dekat jasadnya masih terdapat busur yang menjadi senjata andalannya yaitu sikuntring.


Saya terdiam setelah mendengar cerita tersebut. Saya menyadari bahwa kemerdekaan yang dirasakan sekarang tidak diperoleh dengan mudah. Ada orang-orang yang rela mengorbankan tenaga, keberanian, bahkan nyawanya demi bangsa dan negara. Menjadi pahlawan bukan hanya tentang memiliki senjata, tetapi tentang keberanian untuk membela kebenaran dan rela berkorban.


“Serma Hudaya telah tiada, tetapi semangat perjuangannya tetap hidup. Jejaknya menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa kemerdekaan harus dihargai dan diisi dengan perbuatan yang baik.”


Bagikan:
Kategori: My Journey